Friday, December 10, 2021

Triworo Parnoningrum dan Kecintaannya pada Pendidikan Inklusif

Triworo Parnoningrum dan Kecintaannya pada Pendidikan Inklusif

Triworo Parnoningrum dan Kecintaannya pada Pendidikan Inklusif -

Triworo memulai karier di dunia pendidikan sebagai pengajar mapel IPA. Namun, perjalanannya terus berkembang. Perhatiannya kini tercurah untuk membangun pendidikan yang inklusif, tak hanya di sekolah yang dipimpinnya.

RETNO DYAH AGUSTINA, Surabaya

SETIAP siswa dengan kebutuhan khusus di SMP Negeri 28 Surabaya memiliki satu guru pendamping khusus (GPK). Beberapa guru menunggu di depan kelas, memantau jika siswa membutuhkan sesuatu. Bagi beberapa siswa lain, GPK berdiri di samping si murid. GPK siap membantu siswa secara langsung untuk belajar. Itu salah satu program yang dijalankan Triworo Parnoningrum. Dia berperan sebagai kepala sekolah.

”Kami harus paham kebutuhan tiap anak itu berbeda. Jadi, kalau memang mereka bisa mandiri, kita hanya dampingi dari jauh,” kata Woro, sapaannya.

Membentuk lingkungan pendidikan yang inklusif berarti harus siap belajar dan memahami. Setiap anak punya kemampuan dan kebutuhan sendiri. Sekadar memberi A untuk B belum tentu cocok. Asesmen dari berbagai elemen juga dilakukan Woro dan tim guru.

Bagaimana kondisi mental siswa, kebutuhan belajarnya, serta kesiapan teknologi dan pendampingan orang tua. Pelayanan pendidikan inklusif membutuhkan kerja sama berbagai pihak. Karena itu, guru perlu menyelami setiap detail kebutuhan siswa dan sistem pendukungnya.

Itu hanya salah satu contoh program yang dijalankan Woro. Program-program pendidikan inklusif yang dilahirkan Woro bermula dari rasa gelisahnya. Kegelisahan yang membuat dia belajar tentang pendidikan inklusif dimulai pada 2008. Sekolah tempatnya mengajar pada 2008 itu mulai menerima anak berkebutuhan khusus. ”Saya ingat, saat itu ada lima siswa dengan kebutuhan yang berbeda-beda. Saya sendiri kagok saat harus menghadapi,” kenangnya.

Siswa-siswa yang ditangani saat itu merupakan pelajar dengan kondisi tunagrahita, tunarungu, dan autisme pasif. ”Bayangkan, mereka datang ke sekolah untuk dapat pelayanan pendidikan. Tapi, saya sendiri tidak tahu bagaimana melayaninya?” imbuh perempuan kelahiran Surabaya tersebut.

Kegelisahan itu lantas mendorong Woro untuk berdiskusi dengan kepala sekolah dan guru-guru lain. Murid-murid itu tak bisa hanya diam tanpa penanganan saat belajar di kelas. Duduk manis, tapi tak terjamin apakah ilmu yang disampaikan benar-benar diterima.

Dia kemudian terdorong untuk mencari tahu seperti apa pelayanan pendidikan bagi anak penyandang disabilitas di tempat lain. ”Semua saya coba. Ke SLB, ke Unesa, Googling sendiri. Saya ingin tahu harus bagaimana, sih,” jelas alumnus Jurusan D-3 MIPA Biologi Universitas Airlangga dan melanjutkan penyetaraan S-1 di IKIP Negeri Surabaya (saat ini Unesa) itu.

Dia ingat betul, kehadiran anak berkebutuhan khusus (ABK) selalu menjadi bahan perdebatan di ruang guru.

Ada yang merasa kasihan. Ada yang pasrah. Ada pula yang ingin ABK dikembalikan ke SLB saja. Namun, hal itu tak membuatnya menyerah. Perempuan kelahiran 1971 itu justru makin penasaran. Bagaimana mengambil hati para guru? Saat itu dia sudah tergabung di staf kurikulum dan tim peningkatan mutu sekolah.

Woro ingin sistem yang lebih siap untuk menyambut lebih banyak siswa berkebutuhan khusus. Mengambil hati para guru menjadi tantangan pertama yang ditaklukkan.

”Di mana-mana kalau ada penolakan, saya berupaya menguatkan budaya inklusif dengan mengubah mindset guru dari menolak menjadi terpanggil untuk mau menerima, barulah mampu melayani,” jelas perempuan yang tergabung dalam Tim Pengembang Pendidikan Inklusif se-Jatim itu.

Triworo Parnoningrum dan Kecintaannya pada Pendidikan Inklusif

No comments:
Write comments

Get More of our Update