Aksi di Eks Galian Tambang, Prihatin Kondisi Gresik Utara
JawaPos.com- Luas ruang terbuka hijau (RTH) di Gresik masih jauh dari ideal. Malah, dalam 5 tahun terakhir terjadi penurunan. Dari luas wilayah dan jumlah penduduk, idealnya RTH di Kota Pudak ini mencapai 202,93 kilometer persegi (km2). Namun, saat ini hanya 160,15 km2.
Artinya, RTH di Gresik masih kurang seluas 42,78 km2. Fakta tersebut merupakan hasil penelitian yang dilakukan tim mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dengan metode Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) pada 2021 ini.
Dampak kekurangan RTH itu banyak. Di antaranya, suplai kebutuhan oksigen yang bersumber dari pepohonan dan tanaman hijau tersebut sangat kurang untuk kesehatan manusia. Padahal, di sisi lain, Gresik merupakan kawasan industri dengan potensi pencemaran tinggi.
Karena itu, gerakan menebang pohon sembarangan mesti dihentikan. Sebaliknya, aksi-aksi menanam pohon harus digelorakan. Nah, sebagai bagian dari aksi tersebut, kemarin (10/12) Keluarga Pecinta Alam (KPA) Himpunan Siswa SMA Kanjeng Sepuh (Hissmakasa) Sidayu, Gresik, melakukan penanaman pohon.
‘’Kegiatan ini setiap tahun kami selenggarakan di sejumlah tempat di wilayah Gresik utara. Pada momen ini, sengaja kami rangkai bersamaan dalam peringatan Dies Maulidiyah Hissmakasa ke-26,’’ kata Khoirur Rijal, pembina KPA SMA Kanjeng Sepuh Sidayu.
Dalam aksi ini, para siswa dan santri turun ke kawasan lahan bekas tambang di wilayah Kecamatan Panceng. Sama dengan kondisi di beberapa lokasi lain, di Gresik utara belakangan juga terjadi penurunan RTH. Makin hari makin berkurang dampak aktifitas pembangunan infrastruktur. Kondisinya terbilang kian kritis.
Gerakan anak-anak muda itu mereka sebut sebagai menanam mata air, menebang air mata. ‘’Maksudnya, jika kita mau menanam pepohonan, maka jadi sumber kehidupan. Sebaliknya, kalau menebang, akan menjadi air mata. Sebab, berpotensi bencana,’’ ungkapnya.
Setidaknya, ada sebanyak 1.000 pohon yang ditanam dalam aksi kemarin. Rijal berharap, kegiatan tersebut juga sekaligus ajakan terhadap siapapun yang merasa masih membutuhkan nafas segar. Terutama di wilayah Gresik utara. Selain itu, sebagai edukasi tentang pentingnya kelestarian lingkungan. ‘’Jangan wariskan kerusakan alam pada generasi mendatang,’’ tegasnya.
Dalam aksi tersebut, juga diikuti beberapa organisasi pecinta alam di wilayah Gresik utara. Selain itu, juga mendapat dukungan dengan Pemerintah Desa Ketanen, sebagai lokasi kegiatan. ‘’Aksi semacam ini akan terus kami gaungkan. Menggugah kesadaran semua pihak untuk selalu menjaga kelestarian alam. Kita butuh oksigen. Penyumbang oksigen terbanyak adalah tumbuh-tumbuhan dan pepohonan,’’ pungkasnya.
No comments:
Write comments