Friday, December 17, 2021

Indonesian Stuttering Community (ISC), Wadah Penyintas Gagap di Jatim

Indonesian Stuttering Community (ISC), Wadah Penyintas Gagap di Jatim

Indonesian Stuttering Community (ISC), Wadah Penyintas Gagap di Jatim -

Saat bertemu dengan orang yang gagap bicara, sebagian meremehkan bahkan mengolok mereka. Itu membuat penyintas gagap semakin malu dan menutup diri. Karena itu, mereka mewadahi diri dalam sebuah komunitas agar bisa saling berbagi.

HANAA SEPTIANA, Surabaya

’’STUTTERER semakin tidak mau speak up karena sering diremehkan,” kata founder Indonesian Stuttering Community (ISC) Jatim Aswin Dafry saat diwawancarai Kamis (16/12).

Pria asli Surabaya itu juga penyintas gagap. Namun, Aswin masih terdengar lancar berbicara. Berbeda dengan sebagian penyintas lain yang tingkat gagapnya cenderung tinggi hingga susah berbicara. Dampaknya, mereka masih kerap diremehkan masyarakat. Rasa percaya diri mereka pun ngedrop. Karena itu, Aswin menggagas terbentuknya ISC di Surabaya dan Jatim.

Komunitas tersebut dibentuk awal 2020. Sampai saat ini, belum banyak penyintas gagap yang bergabung. Hanya empat orang. Menurut Aswin, hal itu terjadi karena sebagian penyintas masih malu mengakui keadaannya atau gengsi akibat stigma dari masyarakat. Alhasil, ISC masih sulit menjaring mereka.

Para penyintas gagap sejauh ini dianggap penyandang disabilitas oleh pemerintah. Sebab, mereka memiliki ciri-ciri seperti penyandang disabilitas sensorik. Yang disebutkan Undang-Undang No 8 Tahun 2016 pasal 4 ayat 1 huruf d. Aswin kurang setuju jika gagap dianggap sebagai disabilitas. Namun, dia menyadari bahwa gagap memiliki banyak jenis dan tingkatannya.

’’Di kemudian hari bisa jadi ada pengklasifikasian jenis-jenis gagap secara tertulis,” kata pria yang berprofesi sebagai wirausahawan itu.

Sebelumnya, ISC dibentuk di Jakarta pada 2017 yang diinisiasi penyintas gagap Dimas Tandayu. Ide itu muncul karena keresahan dia dan sesama penyintas gagap lainnya terhadap keadaan gagap tersebut. Melalui media sosial Facebook, Dimas berhasil mengenalkan komunitas tersebut kepada masyarakat luas. Kini anggotanya mencapai lebih dari 500 orang dari seluruh Indonesia.

Aswin pun membentuk jejaring sendiri di Surabaya pada awal 2020. Sebagai perwakilan ISC pusat, dia dibantu sesama penyintas gagap asli Surabaya Danies Aprilia. Mereka berupaya menghidupkan kegiatan untuk penyintas gagap di Surabaya. Tujuannya, mereka bisa lebih percaya diri. Misalnya, saling berbagi pengalaman, berlatih berbicara, dan berlatih mengatasi emosi.

’’Sebab, banyak stutterer yang tidak nyaman berbagi dengan orang awam. Kalau sesama penyintas lebih terbuka,” kata Danies.

Selama pandemi, kegiatan dijalani secara daring. Misalnya, pada program latihan berbicara, anggota ditugasi untuk berbicara tema khusus. Itu dilakukan melalui voice note aplikasi WhatsApp. Contohnya, menceritakan cara memesan makanan di rumah makan. Tujuannya, mereka mau bersuara. Nanti ada umpan balik dari sesama anggota.

Menurut Danies, penyintas gagap dibedakan dari jenis gagapnya. Misalnya, ada yang berbicara secara berulang atau repeating, ada juga yang terhenti atau blocking. Riwayat mereka menjadi penyintas gagap pun berbeda. Karena itu, perlakuan masing-masing akan berbeda.

Mereka berharap ke depan lebih banyak penyintas gagap yang bergabung dari Surabaya maupun Jatim. Dengan begitu, semakin banyak penyintas gagap yang membuka diri. Sebab, selama ini masih kerap ditemukan penyintas gagap yang malu-malu hingga menghambat pendidikan dan kariernya. Aswin pun kerap memotivasi penyintas gagap lain karena dirinya pernah menjadi penyiar radio.

’’Kalau orang gagap bisa jadi penyiar, berarti nggak ada batasan dalam bermimpi,” tandasnya.

Indonesian Stuttering Community (ISC), Wadah Penyintas Gagap di Jatim

No comments:
Write comments

Get More of our Update