Monday, June 8, 2020

Ketahui 2 Indikasi yang Sebabkan Perempuan Menjalani Egg Banking

Ketahui 2 Indikasi yang Sebabkan Perempuan Menjalani Egg Banking

Ketahui 2 Indikasi yang Sebabkan Perempuan Menjalani Egg Banking -

JawaPos.com – Pembekuan dan penyimpanan sel telur perempuan atau yang dikenal dengan sebutan egg banking memang belum lazim dilakukan di Indonesia. Tapi, buat beberapa perempuan, egg banking bisa menjadi pilihan tepat jika ingin berencana memiliki anak di kemudian hari.

Egg banking sendiri merupakan proses pengambilan sel telur yang matang dari perempuan. Lalu disimpan dengan cara dibekukan dalam minus ratusan derajat celcius, sebelum nantinya dibuahi sesuai dengan keinginan sang penyimpan telur di masa depan.

Lantas, apa alasan yang menyebabkan seorang perempuan melakukan penyimpanan sel telurnya?

Dalam online press conferense, dr. Arie A. Polim selaku Medical Director PT. Morula Indonesia mengungkapkan, ada 2 indikasi yang menyebabkan seorang perempuan menyimpan sel telurnya. Yakni kondisi medis dan sosial.

Kondisi medis ini dikatakan ketika seorang perempuan menderita sakit berat sehingga memerlukan perawatan khusus yang bisa memengaruhi sel telurnya. Misalnya seorang perempuan yang menderita kanker payudara atau usus.

Biasanya, ungkap dr. Arie, kondisi sakit berat seperti kanker memerlukan perawatan atau pengobatan dengan cara kemoterapi atau radioterapi. Nah, pengobatan kanker ini bisa merusak indung telur dan sel telur di dalamnya.

“Otomatis itu akan mengganggu vertilitas dikemudian hari jika ingin punya anak. Nah ada kondisi bisa kita lakukan pembekuan sel telur,” ujar dr. Arie dalam konferensi pers online ’22 Tahun Morula Indonesia’, Senin (8/6).

Sehingga, ketika nantinya kondisi si pasien sudah pulih dan ingin punya anak, maka perempuan tersebut masih punya sel telur yang sehat. Atau perempuan berusia 20-an lalu menderita kista, bisa melakukan penyimpanan. Sebab sel telur akan lebih sedikit jika makin tua.

Sedangkan, indikasi sosial biasanya lebih ke keadaan perempuan yang ingin memiliki sel telur sehat di usia muda tapi masih belum mau punya anak. Misalnya, di usia 20-an, seorang perempuan biasanya sedang fokus mengejar karirnya, bisa melakukan penyimpanan sel telur.

Jika nanti di usia matang dan sudah menikah, maka sel telur yang disimpan bisa dibuahi oleh sperma suaminya. “Jadi untuk yang single, menyimpan sel telur itu boleh. Tapi ketika akan dibuahi maka si perempuan harus menikah dulu. Jadi kalau tidak ada surat nikah yang sah, maka kita tidak bisa lakukan pembuahan,” lanjut dr. Arie.

Lantas, adakah masa kedaluwarsa saat menyimpan sel telur?

Dokter Ari menerangkan, sebenarnya tidak ada masa kedaluwarsa atau expired saat menyimpan sel telur. Misalnya, seorang perempuan menyimpan sel telurnya saat berusia 25 tahun. Lalu, ia ingin memiliki anak pada usia 40 tahun. Maka usia sel telurnya tetap muda. Karena diambil 15 tahun yang lalu, saat usia masih muda.

“Maka risiko yang perlu diperhatikan adalah pada kehamilannya, karena umurnya sudah 40 tahun,” terangnya.

Saksikan video menarik berikut ini:

 

 

Ketahui 2 Indikasi yang Sebabkan Perempuan Menjalani Egg Banking

No comments:
Write comments

Get More of our Update